Kediri, tapaktimoernuswantara.online – Di tengah meningkatnya volume sampah yang terus membebani TPA Klotok, warga Kecamatan Mojoroto mulai kembali pada cara lama yang kini terasa relevan: joglangan.

Lubang sederhana di pekarangan rumah itu kini menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap sampah. Dari sesuatu yang dibuang, menjadi bagian dari siklus kehidupan.

Setiap hari, sisa dapur seperti nasi basi, sayuran, dan daun kering dimasukkan ke dalam lubang, ditutup tanah, dan dibiarkan terurai. Hasilnya, tanah menjadi lebih subur dan dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman.

Camat Mojoroto, Abdul Rahman, menyebut langkah ini sebagai solusi sederhana yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengurangi beban lingkungan.

Namun, ia mengingatkan pentingnya pemilahan sampah sejak awal agar joglangan tidak tercampur dengan limbah anorganik.

Di sisi lain, bagi warga yang tidak memiliki lahan, alternatif seperti bank sampah mulai diperkuat. Di sana, sampah plastik dan kering dapat ditukar menjadi nilai ekonomi.

Perlahan, kesadaran masyarakat mulai tumbuh. Sampah tak lagi sekadar dibuang, tetapi dikelola dengan cara yang lebih bijak.

Dari lubang kecil di halaman rumah, muncul harapan besar—bahwa persoalan lingkungan bisa diselesaikan dari langkah sederhana yang dilakukan bersama.