KEDIRI, Jawa Timur,tapaktimoernuswantara.online — Hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kota Kediri, Jumat sore (3/4), memicu kepanikan warga di sejumlah wilayah.Cuaca ekstrem yang datang secara tiba-tiba membuat warga di Kelurahan Kaliombo, Ngronggo, hingga Manisrenggo panik. Dalam waktu singkat, angin kencang menerjang permukiman, mengakibatkan puluhan atap rumah beterbangan dan sejumlah pohon besar tumbang.

Dampak paling terasa terjadi di jalur utama kota. Di Jalan Urip Sumoharjo, sedikitnya empat pohon tumbang menutup badan jalan. Akibatnya, arus lalu lintas lumpuh total dan menyebabkan kemacetan panjang.

Antrean kendaraan bahkan mengular dari kawasan Alun-Alun Kota Kediri hingga selatan pertigaan Jetis. Dari arah sebaliknya, kemacetan juga terjadi hingga depan Universitas Islam Kadiri. Situasi ini baru berangsur normal sekitar pukul 18.00 WIB setelah proses evakuasi dan pemotongan pohon selesai dilakukan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri, Joko Arianto, mengungkapkan bahwa total terdapat 13 titik kejadian pohon dan dahan tumbang yang dilaporkan. Selain itu, angin kencang juga merusak puluhan bangunan milik warga.

Kerusakan cukup parah tercatat di Kelurahan Kaliombo, khususnya di RT 1 RW 5 dan RT 2 RW 5 dengan total 15 rumah terdampak. Sementara itu, di kawasan Perumahan Bumi Asri Blok S terdapat lima rumah rusak, dan sembilan rumah lainnya di Blok T juga mengalami kerusakan serupa. Bahkan, sebuah dealer mobil di Kelurahan Ngronggo turut terdampak terjangan angin.

“Kalau dilihat dari sebarannya, kejadian memang terpusat di wilayah Ngronggo, Manisrenggo, dan Kaliombo. Penyebab utamanya hujan deras yang disertai angin kencang,” jelas Joko.

Peristiwa pohon tumbang terjadi hampir bersamaan dengan hujan deras yang turun dalam durasi singkat. Beberapa titik terdampak parah berada di sepanjang Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Sersan Suharmaji, area sekitar GOR Jayabaya, hingga kawasan permukiman warga.

Menanggapi situasi tersebut, BPBD Kota Kediri langsung menerjunkan dua tim reaksi cepat (SRU) untuk melakukan asesmen dan penanganan awal di lokasi kejadian.

Upaya penanganan masih berlanjut hingga keesokan harinya. Tim BPBD kembali melakukan pemangkasan pohon tumbang serta menyalurkan bantuan darurat berupa terpal untuk warga yang rumahnya mengalami kerusakan.

Namun, tidak semua titik dapat langsung ditangani. Salah satunya di area MI Miftahul Falah, di mana pohon tumbang masih menopang bangunan rumah warga. Kondisi minim penerangan membuat proses evakuasi harus ditunda demi keselamatan petugas.

Menurut Joko, sebagian besar kerusakan atap rumah disebabkan oleh material galvalum yang mudah terangkat saat diterpa angin kencang. Selain itu, kondisi geografis juga memperparah dampak, seperti di wilayah Kaliombo yang berbatasan dengan lahan terbuka sehingga angin bertiup lebih kencang tanpa penghalang.

“Di Kaliombo, karena bagian selatannya merupakan lahan kosong, angin langsung menghantam rumah warga tanpa hambatan,” tambahnya.

BPBD pun mengingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan, mengingat saat ini masih dalam masa peralihan musim atau pancaroba.

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, seperti memangkas ranting pohon yang berisiko tumbang, serta rutin membersihkan saluran air di sekitar rumah guna mencegah dampak lanjutan.

Red.tapaktimoernuswantara.online