KEDIRI, tapaktimoernuswantara.online – Aroma gurih jamur goreng menyeruak dari sebuah rumah sederhana di Desa Pojok, Wates, Kediri. Di tempat itulah Siti Fatimah (56) meracik camilan yang kini tak hanya dikenal di daerahnya, tetapi juga telah menembus pasar luar negeri.
Perjalanan usaha Jamur Crispy Pojok yang dirintis sejak 2012 itu bukanlah cerita instan. Selama 14 tahun, Siti terus bertahan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari naik turunnya harga bahan baku hingga persaingan usaha.
Namun bagi Siti, usahanya bukan sekadar bisnis. Lebih dari itu, menjadi sumber penghidupan bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Seiring waktu, produk yang awalnya hanya jamur crispy kini berkembang. Etalase produknya semakin beragam, mulai dari usus crispy, jamur kuping, hingga keripik pare dengan cita rasa khas.
Meski begitu, jamur crispy tetap menjadi primadona. Dalam sehari, puluhan kilogram jamur segar diolah, dan jumlahnya bisa meningkat drastis saat pesanan membludak.
Untuk menjangkau lebih banyak pembeli, Siti memanfaatkan media sosial sebagai etalase digital. Dari sanalah produknya mulai dikenal hingga luar daerah.
Tak disangka, pesanan datang dari berbagai wilayah, termasuk Kalimantan dan kawasan Ibu Kota Nusantara. Bahkan, momen paling membanggakan terjadi saat produknya berhasil dikirim hingga Hong Kong dan Taiwan.
Di tengah kenaikan harga bahan produksi, Siti memilih tetap mempertahankan harga jual demi menjaga kepercayaan pelanggan.
Ia juga menjaga kualitas dengan teknik pengolahan khusus, sehingga produknya tetap renyah dan tahan lama.
Ketekunan Siti mendapat apresiasi dari banyak pihak, termasuk konsumen yang terkesan dengan kualitas produk lokal tersebut.
Kisah ini menjadi bukti bahwa dari desa kecil, mimpi besar bisa tumbuh dan menjelajah dunia.

0 Komentar